Metode Pembelajaran Adab Bergaul dengan Lawan Jenis
Metode Pembelajaran Adab Bergaul dengan Lawan Jenis merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 11 Rabiul Akhir 1448 H / 22 September 2026 M.
Kajian Tentang Metode Pembelajaran Adab Bergaul dengan Lawan Jenis
Pada kesempatan ini, kajian melanjutkan pembahasan buku Tarbiyah Jinsiyyah: Pendidikan Seksual untuk Anak dan Remaja dalam Islam, khususnya bab tentang mengajarkan adab bergaul dengan lawan jenis dan metode pembelajarannya.
Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan orang tua untuk menanamkan adab bergaul dengan lawan jenis. Langkah pertama adalah berusaha menjadi teladan bagi anak-anak dalam melaksanakan aturan syariat.
Orang Tua Menjadi Teladan
Orang tua perlu memberi teladan dalam adab meminta izin, menundukkan pandangan, menjaga diri, tidak bepergian tanpa mahram bagi seorang ibu, tidak berkhalwat, dan tidak berikhtilat. Orang tua harus menjadi teladan dalam hal-hal tersebut.
Pendidikan berlangsung melalui keteladanan. Anak akan melihat apa yang dilakukan orang tuanya. Anak adalah peniru ulung; ia mudah meniru apa yang dilihat, didengar, dan disaksikannya.
Karena itu, orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anak dalam melaksanakan aturan syariat dan adab-adab yang telah dijelaskan. Ketika anak melihat pelanggaran atau ketidakcocokan antara ucapan dan perbuatan, hal itu akan langsung terserap ke dalam dirinya. Manusia biasanya lebih memperhatikan apa yang dilakukan daripada apa yang diucapkan dan lebih mudah belajar dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar.
Orang tua terkadang berbicara panjang lebar tentang bahaya dan dampak buruk gawai. Namun, jika anak melihat orang tuanya tidak dapat lepas dari gawai, nasihat itu tidak akan terserap dan dipahami.
Anak tidak memahami perkataan bahwa telepon seluler atau gawai itu berbahaya apabila yang dilihatnya justru orang tua yang terus menggunakannya. Anak lebih mudah belajar dari apa yang dilihatnya daripada apa yang didengarnya.
Hal serupa pernah terjadi ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan para sahabat untuk bertahallul, menyembelih hadyu, dan mencukur rambut setelah mereka terhalang memasuki Makkah karena Perjanjian Hudaibiyah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka menyembelih hewan hadyu dan mencukur rambut. Namun, tidak seorang pun sahabat melaksanakannya. Mereka tidak bergeming dan tidak menjalankan perintah yang disampaikan secara lisan tersebut.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasa kecewa, lalu kembali ke tenda. Di sana beliau bertemu dengan istrinya, Ummu Salamah.
Ummu Salamah melihat kegundahan, kegelisahan, dan kesedihan beliau. Ia kemudian menyampaikan bahwa para sahabat mungkin akan melaksanakan perintah beliau apabila beliau segera keluar, tidak berbicara kepada siapa pun, mengambil pisau, menyembelih hewan hadyu, lalu memanggil tukang cukur untuk mencukur rambut.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakan saran Ummu Salamah. Ummu Salamah adalah seorang janda yang dinikahi Nabi dan memiliki pengalaman yang mungkin cukup banyak. Perempuan juga memiliki tingkat kematangan dan kematangan berpikir yang berbeda-beda.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian keluar, mengambil pisau, dan menyembelih hewan hadyu.
Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanggil tukang cukur dan mencukur rambut beliau, para sahabat yang melihatnya segera berebut dan berlomba-lomba melaksanakan apa yang dilakukan Nabi. Mereka menyembelih hewan hadyu dan mencukur rambut, meskipun sebelumnya mereka tidak segera melaksanakan perintah tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa manusia biasanya lebih mudah belajar dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar. Para sahabat memahami perkataan Nabi, tetapi mereka terdorong melaksanakannya setelah melihat teladan beliau. Keteladanan memberikan pengaruh besar terhadap manusia sehingga mereka melakukan apa yang disaksikan.
Pendidikan sangat erat kaitannya dengan keteladanan. Oleh karena itu, orang tua harus menjadi teladan dalam melaksanakan adab-adab bergaul dengan lawan jenis.
Keteladanan dan Pendidikan Sesuai Tahap Perkembangan Usia
Adab pergaulan dengan lawan jenis perlu diterangkan sesuai dengan tahap perkembangan usia anak. Manusia belajar mengikuti tahapan usianya. Karena itu, pelajaran untuk anak kelas tiga tidak diberikan kepada anak kelas satu, begitu pula sebaliknya.
Ketika masih kecil, anak dapat diberi pemahaman bahwa bermain bersama lawan jenis masih diperbolehkan. Namun, setelah bertambah besar, kebebasan tersebut tidak lagi berlaku. Adab-adab yang telah dijelaskan sebelumnya, termasuk adab meminta izin, juga perlu disampaikan sesuai usia anak. Penerapannya berbeda antara anak yang masih balita dan anak yang sudah baligh.
Begitu pula dengan kewajiban menutup aurat. Pada masa kanak-kanak, ada pakaian tertentu yang masih diperbolehkan. Namun, ketika anak bertambah besar, ketentuannya berubah. Semua itu perlu diajarkan secara bertahap sesuai perkembangan usia anak.
Nalar manusia berkembang seiring bertambahnya usia. Anak kecil belum mampu memahami alasan harus membatasi diri dengan lawan jenis karena gejolak syahwat belum muncul. Ia juga mungkin belum memahami aurat lawan jenis. Namun, ketika perubahan fisik mulai terjadi dan anak mendekati masa balig, batasan tersebut harus diperketat.
Latihan memisahkan tempat tidur juga dilakukan secara bertahap. Pada usia kecil, anak belum mampu tidur terpisah. Namun, seiring bertambahnya usia, ia harus mampu berpisah tempat tidur dan kamar dari lawan jenis.
Anak berkembang sesuai usianya. Karena itu, orang tua keliru jika tidak mengikuti perkembangan tersebut. Anak kecil tidak seharusnya diperlakukan seperti orang dewasa. Misalnya, memakaikan cadar ketika masih berada pada usia bermain, sehingga ruang geraknya menjadi terbatas.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membiarkan Aisyah bermain boneka karena ia masih berada pada usia bermain. Ketika Aisyah memasuki masa remaja, Nabi tidak lagi memperlakukannya dengan cara yang sama. Demikian pula anak-anak perlu diperlakukan sesuai dengan perkembangan usianya.
Belajar juga harus memiliki tahapan. Anak kecil yang masih berusia dua tahun tidak perlu diperlakukan seperti orang dewasa atau dibatasi ruang geraknya dengan alasan latihan. Waktu bermain tidak semestinya dirampas dari anak sebelum waktunya.
Sebaliknya, ketika anak sudah remaja, ia tidak boleh terus diperlakukan seperti anak kecil. Anak yang memasuki masa remaja perlu diperlakukan sebagai remaja. Banyak orang tua tidak siap mengikuti perkembangan usia dan perubahan yang terjadi pada anak.
Ketika anak sudah dewasa, perlakukanlah ia sebagai orang dewasa, bukan seperti anak kecil. Perlakuan yang tidak sesuai dapat membuatnya tersinggung dan tidak nyaman. Sebagian orang tua ingin anaknya tetap kanak-kanak karena masa kanak-kanak dianggap lucu. Namun, jika anak sudah tidak lagi berada pada usia tersebut, perlakuan seperti itu merupakan kekeliruan.
Anak remaja yang terus diperlakukan seperti anak kecil akan terhambat kedewasaannya dan terbatas ruang geraknya. Sebaliknya, anak kecil yang diperlakukan seperti orang dewasa juga tidak sesuai. Orang tua sering kali mengikuti selera sendiri, bukan kebutuhan anak. Hal ini termasuk metode pendidikan yang keliru.
Menjelaskan Hikmah Syariat kepada Remaja
Ketika anak sudah menginjak remaja, orang tua perlu sering mengajaknya berpikir tentang hikmah agung di balik ketentuan syariat. Remaja sudah mampu memahami alasan, nilai, kepentingan, dan kemaslahatan dari adab-adab tersebut, serta memahami mudarat apabila adab itu tidak dilaksanakan. Gambaran seperti ini perlu diberikan kepada anak-anak remaja, terlebih karena mengawal remaja pada masa sekarang tidak mudah.
Budaya pacaran dapat mendorong remaja untuk ikut melakukannya ketika melihat teman-teman di sekitarnya berpacaran. Mereka belum tentu menyadari sejauh mana kerusakan yang ditimbulkan atau memahami apakah perbuatan itu dilarang atau tidak.
Karena itu, orang tua harus lebih tegas dalam menjelaskan dan menanamkan batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Tugas ini tidak mudah, terutama ketika menghadapi remaja Generasi Z, Generasi Alfa, dan Generasi Beta. Lingkungan, gawai, serta berbagai hal yang mereka lihat di sekitarnya dan melalui layar gawai sangat memengaruhi mereka.
Banyak orang tua melaporkan perilaku pacaran dan berbagai persoalan lain yang berkaitan dengan hubungan lawan jenis pada anak-anak mereka. Sebagian orang tua mungkin hanya berfokus menjelaskan hukumnya, bahwa perbuatan itu haram. Padahal, anak terkadang sudah mengetahui hukum tersebut. Hal yang belum dipahami ialah maslahat dan mudarat yang akan terjadi apabila mereka melakukannya dan tidak mengindahkan adab-adab syariat.
Pemahaman itu perlu ditanamkan secara bertahap. Remaja perlu menyadari bahwa perilaku tersebut berbahaya dan dapat menyeret mereka kepada keburukan yang lebih besar. Banyak kasus menunjukkan adanya korban akibat persoalan ini. Karena itu, orang tua perlu terus berdialog dan berbicara dengan anak secara perlahan, serta memanfaatkan berbagai kesempatan untuk menjelaskan hal-hal tersebut.
Pada dasarnya, manusia tidak mau dipaksa, ditekan, atau direnggut kebebasannya. Namun, manusia dapat berubah. Perubahan memerlukan waktu dan proses. Demikian pula anak-anak kita.
Apalagi jika sejak kecil anak tidak memperoleh pendidikan yang memadai di rumah. Kelalaian orang tua dapat terjadi ketika mereka tidak menanamkan dan membiasakan adab-adab syariat sejak dini. Mengabaikan adab-adab tersebut membuat proses pendidikan menjadi lebih berat.
Orang tua perlu meyakinkan anak bahwa pelaksanaan adab-adab syariat akan membawa kemaslahatan di dunia dan akhirat. Dakwah tidak berlangsung secara instan. Menanamkan suatu nilai ke dalam hati seseorang memerlukan waktu.
Pada dasarnya, manusia tidak dipaksa untuk beriman. Allah ‘Azza wa Jalla tidak memaksa manusia untuk beriman. Pendekatan pendidikan kepada anak pun demikian. Hubungan orang tua dengan anak tetap merupakan hubungan antara makhluk dan makhluk, sedangkan hubungan Allah dengan manusia adalah hubungan antara Pencipta dan ciptaan. Jika pendidikan dipaksakan, anak biasanya hanya melaksanakannya karena terpaksa, bukan karena kemauan sendiri.
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
“Tidak ada paksaan dalam agama.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)
Orang tua harus berfokus merangsang kemauan anak, bukan sekadar melaksanakan keinginan orang tua. Tidak ada orang tua yang menginginkan keburukan bagi anaknya, tetapi persoalannya ialah apakah anak tersebut memiliki kemauan untuk melaksanakannya.
Menumbuhkan kemauan dalam diri seseorang memang tidak mudah. Kemauan itu merupakan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika Allah membuka hati seseorang, tidak ada seorang pun yang dapat menutupnya.
Manusia tidak dapat dipaksa untuk memperoleh hidayah atau memilih kesesatan, iman atau kekufuran. Karena itu, dakwah para nabi berlangsung panjang dan lama. Dakwah bukan pekerjaan sehari atau dua hari, bahkan bukan pekerjaan semalam atau dua malam. Dakwah bukan proyek yang dapat diselesaikan secara singkat.
Bagaimana kajian lengkapnya? Mari download dan simak kajian yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Metode Pembelajaran Adab Bergaul dengan Lawan Jenis” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56556-metode-pembelajaran-adab-bergaul-dengan-lawan-jenis/